Update Singkat: 3 Minggu Pertama di Abu Dhabi

Roommates: UK - Indonesia - China - Thailand

Welcome Dinner, Sehari Sebelum Idul Fitri

Beberapa Penghuni Lantai 7

Burj Khalifa, Dubai

You guys have no idea how splendid my life has been here in Abu Dhabi. Belajar dengan 300 orang (Class of 2014 & 2014) dari 80-an negara berbeda, dengan aksen beragam. Fisika dan Kimia bersama Professor Zaw, Gelfand, dan Bernstein, setiap hari. Kalkulus teoritis dengan Professor Camia 3 kali setiap minggu. Kelas Capoeira 2 kali setiap satu minggu. Telematic Ensembles dengan NYU Steinhardt, New York sekali setiap minggu. Kelas privat vocal bersama Professor Charlier, Yuqi (China, Piano, Roommate!), Olivia (Amerika Serikat, Vocal) sekali setiap minggu. Literatur dan filosofi 2 kali satu minggu. Sholat Jumat di Masjid Sheikh Zayed setiap minggu. Dan lain-lain.

Alhamdullillah. Cerita panjang akan di-publish di post yang akan datang.

Ditulis di Sama Tower, Abu Dhabi.

Leave a Comment

Filed under Uncategorized

Sembilan Belas (Hari)

Gentlemen, brace yourselves as it’s 19 days before flying for the lands where gold bars are literally sold in vending machines. Bercanda, tapi memang sekitar 19 hari lagi saya akan berangkat ke Abu Dhabi (dan memang disana emas dijual seperti kaleng minuman ringan). Sejauh ini belum ada persiapan berarti, ada beberapa persiapan administratif seperti entry permit (yang jauh lebih mudah diurus dibandingkan visa keluar negeri lainnya!), jadwal mata kuliah, serta tugas. Akhirnya, setelah terakhir kali kesana sebagai kandidat Class of 2015, sekarang saya akan datang sebagai mahasiswa.

Berbicara mengenai tugas, sebenarnya tugasnya tidak bersifat wajib, setiap pelajar diajak untuk mengikuti sebuah forum diskusi (summer colloquium) yang didatangi oleh seluruh bagian aktif NYU Abu Dhabi: pelajar, professor, staff, dan lain-lain. Diskusi diadakan selama masa orientasi yang dikenal dengan nama Marhaba Week, alias ‘Welcome Week’ dalam bahasa Arab. Jika tahun lalu, Class of 2014, dikirimkan sebuah buku gratis mengenai cosmopolitanisme dan mendiskusikannya selama Marhaba Week, kali ini, Class of 2015, meletakkan penekanan di diskusi yang bertemakan kepemimpinan–yang menarik, karena membahas sisi kepemimpinannya melalui sudut pandang pemimpin (atau pemikir) dimasa lalu seperti Aristotle hingga pemimpin yang sedang diuji kelihaiannya dalam menjaga stabilitas keuangan negara, Barack Obama. Menarik..belum saja mulai, tampaknya saya juga sudah menikmati konsep NYU Abu Dhabi dalam memulai tahun ajaran baru.

Pada intinya tema diskusi akan berotasi disekitar ide Golden Mean. Berikut adalah sedikit cuplikan dari apa yang akan dibahas saat masa orientasi nanti (credits to Prof. Cyrus Patell):

Ide ‘the Golden Mean’ ini berprinsipkan bahwa kebaikan utama terletak diantara dua ekstrim. Konsep ini, dahulu dan sekarang, dapat ditemukan dalam filosofi Aristoteles dan Konfusianisme. Bahkan beberapa orang menginterpretasi ide ini sebagai ide yang sangat penting dalam kepercayaan di agama Islam.

Di abad pertengahan, influensi Aristoteles di Eropa meluruh: beberapa karyanya mungkin akan sudah tidak dapat diselamatkan jika saja pelajar-pelajar Muslim tidak mengartikan isinya kedalam bahasa arab. Influensi Aristoteles meninggi setelah seorang filsuf yang dikenal dengan nama Ibnu Rushd mencoba untuk mengintegrasikan konsep ‘the Golden Mean’ ini kedalam Islam.

Di idenya, Aristotels berkata  “a master of any art avoids excess and defect, but seeks the intermediate,” dan Confucius melalui doktrinnya yang dikenal dengan ‘The Doctrine of the Mean’, mengatakan “Let the states of equilibrium and harmony exist in perfection, and a happy order will prevail throughout heaven and earth, and all things will be nourished and flourish.” Keduanya pada intinya menggarisbawahi bah ekstrimisme kiri dan kanan sebaiknya dihindari, yang terbaik adalah berpedoman pada apa yang ada ditengah-tengah ekstrim tersebut.

Namun jika kita semata-mata berpedoman kepada ‘The Doctrine of Mean’, yang menganjurkan untuk menjalani segala sesuatu dalam moderasi, kapan waktu yang tepat untuk mengabaikan moderasi demi sesuatu yang empatik? Presiden Abraham Lincoln dalam pidato perdananya menggarisbawahi bahwa perbudakan adalah jahat. Bagaimana ia bisa mempromosikan perubahan tanpa merobek ‘union’ yang ia cintai, melanggar konsep moderasi?

Ditambah lagi, Presiden Obama melalui ‘The Audacity of Hope’ yang ia karang beberapa than lulu, di Chapter ketiga tepatnya, mengatakan bahwa President Lincoln sebagai seorang pragmatis adalah model pemimpin yang tepat didunia sekarang: “Lincoln, who like no man before or since understood both the deliberative function of our democracy and the limits of such deliberation. We remember him for the firmness and depth of his convictions-his unyielding opposition to slavery and his determination that a house divided could not stand. But his presidency was guided by a practicality that would distress us today.”

Hingga saat ini jujur saya belum melakukan riset apapun tentang segala hal diatas, mengingat bulan puasa yang diisi dengan kegiatan bersama keluarga (dan reviews pelajaran-pelajaran yang membutuhkan kemahiran kuantitatif). Setiap hari saya selalu melihat grup NYU Abu Dhabi Class of 2015 yang diupdate, dan menyimak diskusi-diskusi menarik mengenai ekstrakulikuler-ekstrakulikuler  di grup lainnya: fencing, horse-riding, scuba diving, golf, triathlon training, dan lain-lain. Untuk semester ini saya dengan sengaja mengambil course olahraga yang tidak membutuhkan perjalanan ke Officers Club (dimana rata-rata kegiatan olahraga dilakukan), sekedar observasi awal terlebih dahulu. Semoga bisa mengambil course fencing / horse-riding nantinya!

Ditulis di Cibubur, Jakarta.

Related Post: Ke NYU Abu Dhabi?

Leave a Comment

Filed under Uncategorized

Sembilan Belas

Sebagai penyuka film dan fans J.K. Rowling, beberapa waktu lalu, ketika Harry Potter and The Deathly Hallows Pt. 2 direncanakan untuk tidak diputar di Indonesia, saya langsung punya inisiatif untuk menonton the finale di bagian negara manapun yang memutar HP 7. Negara terdekat, dimana filmnya dijamin ada: Singapura. Setelah memberitahukan rencana saya menonton sendiri ke keluarga, pada akhirnya semua langsung merencanakan liburan bersama ke Singapura.

Kegiatan di Singapura cukup mengasyikkan, mengingat semua sudah tahu apa yang harus dilakukan dan lokasi apa yang harus dikunjungi. Hari pertama menjelajahi Orchard Road dan membeli serta memulai membaca The Catcher in The Rye karangan J.D. Salinger, hari kedua mendatangi Universal Studios Singapore (yang cukup impresif!) dan Sentosa, hari ketiga mengunjungi Marina Bay Sands dan menonton The Lion King Show, hari keempat menonton Harry Potter 7 pt. 2, hari kelima, alias besok, akan diisi dengan memenuhi hasrat Vidya dan Mom untuk berbelanja di bandara Changi sembari menamatkan The Catcher in The Rye. Oh ya, di hari ketika saya menonton The Lion King Show, saya juga menyempatkan diri ke Artscience Museum yang tepat berada di sebelahnyaelajar ice skating dengan adik saya. Ice skating. It was ouchsome.

Besok saya dan keluarga kembali. Dan yang uniknya, saya baru sadar setengah jam yang lalu besok saya akan berulang tahun; berarti, kebersamaan beberapa hari yang lalu hingga hari ini adalah semacam hadiah untuk saya, bisa dikatakan. Dalam hal kedewasaan dan pembelajaran, saya yang sekarang tertawa jika melihat saya satu tahun lalu, dan saya yakin saya, satu tahun lagi yang akan datang akan tertawa melihat saya yang sedang mengetik di lobby hotel ini.

Bagaimanapun, selamat ulang tahun, Ndra.

Ditulis di Orchard Rd, Singapura.

Leave a Comment

Filed under Uncategorized