Linear

Dalam satu minggu saya akan meninggalkan Canberra, saat situasi Canberra sedang dingin-dinginnya. Sedih, senang, bercampur. Klise sepertinya frase sebelumnya, setiap orang yang meninggalkan suatu tempat ke tempat lain pasti memiliki perasaan seperti itu. Dalam beberapa hari sebelum meninggalkan Canberra, saya setiap pergi berangkat ke Hancock library yang, anehnya, sepi. Jarang sekali perpustakaan-perpustakaan ANU sepi, karena perpustakaan di ANU, berdasarkan pendapat dari siswa-siswi ANU sendiri, bagaikan rumah kedua. Buka setiap hari hingga pukul 11 malam.

Mungkin itu salah satu alasan mengapa saya menyempatkan diri ke perpustakaan setiap hari dalam masa liburan: melihat bagaimana ‘bentuk’ perpustakaan ketika tidak ada orang didalamnya (Hancock library masih buka hingga pukul 5 sore saat liburan). Di hari ketiga saya mengunjungi perpustakaan, ada seseorang yang saya lihat semenjak hari pertama duduk di tempat yang sama, dengan buku-buku yang sama. Saya beranjak dari buku Introduction to Analysis yang saya baca, menuju ke komputer yang khusus digunakan untuk browsing buku-buku. Di saat yang sama, dia, orang yang belajar dan duduk di tempat yang sama itu, beranjak menuju ke kumpulan komputer katalog juga. Demi menghapus awkwardness, saya ajak berbicaralah si wanita itu.  Kira-kira kalau seperti ini:

Saya: “Seems that somebody has been working hard over the winter break. Been studying eh?”

Dia: “Haha, yeah, sort of. You know you need to move forward when others don’t feel like doing so.”

Kira-kira seperti itulah bagian penting percakapannya, sisanya tentang hal-hal kolokuial seperti mantapnya internet ANU yang menyediakan suplai internet 2 GB setiap hari, dan di-recharge dihari berikutnya. You know, those stranger topics: topik-topik yang berkaitan dengan hal-hal trivial tapi unik.

Jika dipikir-pikir si wanita benar. Pemikirannya semacam konsep perang Sun Tzu yang pernah sekilas saya baca di salah satu di rak buku ayah saya. Lakukan sesuatu yang krusial ketika musuh lemah atau tidak sadar. Belajar ketika mahasiswa lain tidak belajar, niscaya dirimu akan ‘menang’. Sepertinya patut diaplikasikan nantinya.

Hal-hal seperti itu mungkin yang akan saya ‘rindukan’ dari ANU: pertemuan-pertemuan tak terduga di perpustakaan, yang berujung pada perkenalan unik (2 bulan lalu di Chifley library, perpustakaan ilmu sosial ANU, saya pada akhirnya berbicara tentang ‘hidup’ dengan seorang mahasiswa baru asal Jerman yang meminta bantuan saya untuk dapat terkoneksi ke internet). Baru kali ini saya punya hobi datang ke suatu tempat publik, semacam rumah kedua, kata beberapa mahasiswa, duduk diantara dua aisles, baca, dan terkadang berbicara dengan orang-orang yang tak terduga.

Sepulang dare Hancock library, saya mengecek gmail. Ada satu email dari NYU Abu Dhabi, isinya tentang flight saya ke Abu Dhabi tanggal 26 Agustus; kali ini bukan sebagai kandidat mahasiswa, tapi sebagai mahasiswa. Semua mahasiswa Class of 2015 (yang notabenenya hanya 150 orang) pun berebut membuat list keberangkatan untuk melihat siapa bisa bertemu siapa di bandara nantinya.

Aneh rasanya, masih aneh. Semenjak SMP saya bercita-cita kuliah di Amerika, dan hampir terwujud. Di suatu malam di Magelang, tiba-tiba email dari Jakarta memanggil untuk proses seleksi ke Australia. Rencana berubah, terbang menuju Australia. Di suatu malam di Canberra, tiba-tiba email dari Jakarta memanggil untuk proses seleksi  ke Abu Dhabi. Rencana berubah, akan terbang menuju Abu Dhabi.

Jalur hidup tidak linear sepertinya.

Ditulis di Braddon, Canberra.

Leave a Comment

Filed under Uncategorized

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s