Wanita Itu, Seperti Buah Apel

Menurut saya, hubungan antar manusia itu seperti apel dan pemetiknya.

Jadi seperti ini.

Di sebuah pohon apel, tentu ada apel yang terlewat matang atau gagal matang; ia terkapar di tanah. Ada juga apel yang indah dan matang; ia tergantung di bagian teratas pohon apel itu.

Nah, asumsikan yang menjadi pengambil apel itu para penghuni planet mars, alias pria. Di planet itu, pekerjaan mengambil apel itu dibanggakan. Ada dua tipe pengambil apel.

Pengambil apel pertama, yang mengambil sebuah apel tak perduli bagaimana apelnya: walau apelnya terkapar ditanah, kalau masih terlihat indah, ambil saja, toh masih apel dan tidak terlalu tersayat-sayat rupanya. Pengambil apel ini mengambil apel dengan kondisi apapun, untuk menjaga statusnya sebagai pengambil apel yang notabene sangat dihargai di planet mars. “Status, man. Daripada nggak dapat apel, ambil saja yang ditanah, asal mulus. Yang penting bisa dinikmati untuk sementara: dipegang, digenggam, ditunjukkan ke pengambil apel lainnya. Toh, nanti akan ada apel yang beda lagi.”

Pengambil apel kedua mencoba menunggu sampai apel siap dipetik. Ia mencoba untuk menunggu apel yang mulus diluar, crunchy didalam, dan umumnya apel seperti itu terletak di bagian tertinggi pohon apel. Sering dicemooh, sepertinya, pengambil apel ini. Terkadang, ia sering diejek sebagai pemetik jeruk, karena terus berusaha mengambil apel yang diatas sana, dan mencoba menghindari godaan untuk mengambil apel yang tepat ada di kakinya. Pengambil apel ini berusaha untuk mengambil satu apel terbaik. “Satu apel. Daripada mempermainkan apel yang sudah jatuh, lebih baik berusaha untuk yang terbaik.”

Kembali ke apel.

Di suatu musim tertentu, ada beberapa apel yang menjatuhkan diri ke tanah karena melihat pengambil apel yang ia sukai. Ada juga yang di tanah karena sudah di tanah. Lalu, diambillah apel itu oleh pengambil apel tipe pertama. Tidak perduli ia apa kata teman-temannya, yang penting, dia sudah diambil oleh si pengambil apel, berstatus. Terkadang apel ini rela dijual belikan begitu saja di pasar buah. Beda pedagang setiap hari, atau setiap bulan, atau setiap 3 bulan.   “Ayo, apel, apel”, ujar pedagang satu dengan yang lainnya, atau, “Wah, aku lihat kamu sama apel yang baru di toko sebelah sana. Apel baru ya?” |”Iya nih, apel baru. Cantik kan apel saya yang ini?”

Diwaktu yang sama, apel yang terletak dibagian atas, bingung. Setahu dirinya dia indah, luar dalam. Apa yang salah? Mengapa para pengambil apel memilih yang sudah jatuh dibawah? Apel yang ini lalu mencoba mengubah dirinya. Tapi,

sadarlah, Apel yang diatas sana, kalau dirimu itu berbeda dalam sudut pandang positif. Tidak ada yang perlu diubah. Tinggal menunggu pengambil apel tipe kedua, yang rela dicemooh dan diejek si pemetik jeruk. Jika suatu hari kalian bertemu, kalian pasti akan bersama. Tetap jaga harga buahmu.

15 Comments

Filed under Uncategorized

15 Responses to Wanita Itu, Seperti Buah Apel

  1. Nice! Tulisan ini menguatkanku Ndra! Hehe. Km berfilosofi kyk gini inspirasinya dr mana? Manteb..

  2. agree with your opinion about “girl”
    jadilah apel di ketinggian suatu pohon, yang senantiasa menjaga harga buahnya sendiri,,,,

  3. This is what i tell my girlfriends every time they whine! You don’t mind re-blogging, do you? :)

  4. regina

    good job!
    very nice analogy and positive premises :) keep writing and inspiring :)

  5. ami

    bagus brader! btw, kayaknya pengalaman pribadi nih :P

  6. Wah, makin salut dan ngefans nih ama Guinandra. lol. Loe balajar filsafat juga disana nand? lol

  7. Yang repot kalau sebelum si pemanjat sampai ke atas sana, apelnya sudah keburu busuk dan akhirnya jatuh.

  8. aulia

    tulisannya bagus, Gui…
    perfect..:D

  9. mr. j

    kutipan yang sangat baguz . . . anda berbakat dalam hal ini . . . tingkat kan usahamu . . .
    ganbate . . .

  10. Tulisannya ‘ngena’ banget gui! haha.

    Tapi kadang ada beberapa pengambil apel tipe kedua yang ragu-ragu mengambil apel teratas, karena masih banyak ‘mars’ yang takut kalau ‘venus’ akan lebih unggul daripada dirinya, pria mah maunya wanita ‘pintar’ yang ada disampingnya bukan di depannya :D

    Dan,,, kalau menjadi apel teratas kadang rantingnya harus turun sedikit karena desakan orang tua, hmm.

    *just shared*

  11. diastin yutika

    hmm, simple n nice…
    good job…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s