Jika terlalu emosi karena melihat judul yang sedikit heretikal, bisa langsung membaca solusi yang menurut saya tepat mengenai ini, terdapat di bagian bawah tulisan.
Bukankah esensi sebuah kitab dan tulisan adalah untuk membuat sang pembaca mengerti dan memahami?
Terdengar sedikit kontroversial dan ikonoklastik bagi beberapa pihak. Namun, berikut adalah pendapat saya.
———————
Dahulu, ketika seorang pelajar sekolah menengah atas menempuh pendidikan, ia bertemu seorang pengajar Pelajaran Agama Islam yang sangat terkenal karena pemahaman dirinya terhadap Islam, baik secara substansial maupun pelaksanaan secara teknis.
Sang pelajar, ingin belajar lebih dan ingin memperdalam ilmunya, lantas mengikuti salah satu lecture yang ia sampaikan di suatu hari.
Pelajar : “Bapak, izin bertanya. Salah satu indikator bahwa seseorang dianggap shaleh didepan Allah SWT apa pak? Apakah intensitas sedekah? Frekuensi doa? Jumlah lantunan zikir?”
Pengajar : “Salah satunya, ya. Namun, yang terpenting adalah keseriusan dan keikhlasan melakukan seluruh hal tersebut”.
Pelajar : “Bisa tolong dijelaskan, Pak?”
Pengajar : “Sebagai contoh, seseorang yang serius dan benar-benar menyerahkan dirinya kepada Yang Maha Kuasa, akan menangis ketika membaca Al Quran. Akan tersedu ketika mendengar indahnya lantunan Al Fatihah. Akan bergetar ketika mendengar suara azan.”
Pelajar : (Menangis? Menangis?)
————————————
Asumsi saya, sang pelajar tidak menangis ketika ia membaca Al Quran, mendengar lantunan Al Fatihah ketika shalat, maupun bergetar ketika mendengar Azan karena:
1. Ia tidak mengerti apa arti kata-kata yang ia baca di Al-Quran, yang ia dengar ketika shalat.
2. Ia mengerti, namun ia tidak mau memahami dan mendalami.
P.S: Premis kedua jarang terjadi di Indonesia, karena umumnya pelajar di Indonesia tidak dibekali dengan pemahaman bahasa Arab, kecuali sekolah-sekolah tertentu. Pernyataan ini memang tidak berbasis riset yang saya pribadi lakukan, namun saya yakin benar.
Pelajar diatas juga sesekali bertanya kepada dirinya:
“Mengapa saya harus membaca Al Quran? Oh baiklah, karena Al Quran adalah pedoman hidup, dan seorang yang membaca Al Quran akan memperoleh pahala. Namun, namun. Bagaimana saya akan memperoleh kemampuan dalam pedoman hidup, karena ketika saya membacanya, saya tak mengerti apa maksudnya?”
Saya setuju dengan pelajar itu.
Membaca Al Quran tanpa menguasai Bahasa Arab, bagaikan membaca sebuah skrip drama berbahasa Perancis yang dapat kita baca, namun tidak tahu apa artinya. Hanya dibaca.
Solusi:
1. Sembari mengajarkan seorang anak membaca Al Quran, beritahu artinya.
2. Setelah membaca Al Quran, baca translasi yang terdapat disebelahnya. (Untuk Al Quran yang berterjemah).
3. Belajar Bahasa Arab, sembari membaca Al Quran.
4. Belajar Bahasa Arab beberapa saat sebelum membaca Al Quran.
5. Masukkan course belajar Bahasa Arab dalam setiap pelajaran Agama Islam di sekolah.
Jika saja, jika saja sang pelajar sedikit atau menguasai Bahasa Arab,
saya yakin hatinya tergetar ketika membaca rangkaian tulisan elok dalam kitab yang ia pegang.
Jika saja, jika saja sang pelajar mengerti apa arti yang ia baca selama subuh,
saya yakin ia pasti menitikkan air mata di pojokan sebuah masjid sembari memegang sebuah pedoman hidup.
“And We have certainly sent down to you distinct verses and examples from those who passed on before you and an admonition for those who fear Allah .” – An Nur 34
———————————
About contemplation day,
Cancers are mercurial human beings. We experience sudden mood change, caprice moments, and whimsical period of times.
‘Contemplation Day”, which will hopefully perpetuated into further series, is my personal way in considering and deeming things by transcending the logical mind. There is a time, a few minutes, in which a Cancer let themselves being plummeted into the standby mode, and during that time, we, or I, ponder certain aspects which surreptitiously blurred myself before, and snitch out a silver-line as a result from the rumination. Sounds overreacting, but this is an experience of mine, the experience I have ever undergone, once.
Kalau sekolah di Al-Azhar (Indonesia), pasti dapat pelajaran Bahasa Arab. Bahasa Arab-nya juga Bahasa Arab Qur’ani, karena Bahasa Arab Qur’ani dan Bahasa Arab percakapan (setau gue) jauh berbeda. Menurut gue, Al-Qur’an (atau kitab suci lainnya) sangat dekat dengan hati, perasaan, dan rohani kita. Terbukti dengan fakta bahwa ada orang-orang yang merasa sangat damai dan tenang mendengarkan suara adzan – walau mungkin mereka tidak mengerti artinya (yang juga terjadi pada dosen gue, beliau adalah seorang Katolik taat dan juga pernah mempelajari agama Buddha).
Solusi yang sudah ada pada saat ini adalah baru Solusi #2: Al-Qur’an memiliki terjemahan. Ada Al-Qur’an yang memiliki terjemahan per istilah/kata, atau per ayat. Solusi ini sudah diimplementasikan mengingat mempelajari sebuah bahasa memerlukan waktu yang lama, apalagi Bahasa Arab yang pronoun-nya saja jauh, jauh lebih rumit dibandingkan Bahasa Inggris, penggunaan kata bersifat feminin dan maskulin juga lebih rumit dari Bahasa Perancis. Gue pribadi ingin bisa menghayati Al-Qur’an sesegera mungkin walau mungkin gue belum berkesempatan (dari segi waktu, misalnya) untuk secara intensif mempelajari Bahasa Arab. Mungkin banyak orang di luar sana yang juga memandangnya seperti gue memandang hal ini. Bagaimanapun juga, dari apa yang diajarkan ke gue, Al-Qur’an dibuat dalam satu bahasa (tidak seperti Injil/Al-Kitab misalnya, kalau di Indonesia kan menggunakan Bahasa Indonesia), yaitu Bahasa Arab, agar isinya tidak berubah-ubah barang sedikitpun.
Menurut gue juga, mungkin “menangis” yang dimaksud lahir dari keinginan untuk berserah diri kepada Tuhan dan perasaan yang ditimbulkan ketika membaca Al-Qur’an atau mendengar adzan – betapa indahnya kalimat-kalimat dalam Al-Qur’an yang kita baca, atau kita dengar pembacaannya; atau betapa indahnya alunan suara adzan. Bagi gue, Al-Qur’an sangat ajaib dan indah, begitu juga dengan adzan – walau gue tidak sepenuhnya mengerti artinya. Belum tentu juga kita akan menangis ketika tau artinya kalau memang tidak ada keinginan untuk berserah diri kepada Allah dan tidak merasakan betapa Maha Besarnya Allah. Sama seperti membaca script… Belum tentu ketika seseorang sudah mengerti isi scriptnya, ia bisa membacanya dengan penuh penghayatan. Sama seperti menonton film dalam bahasa lain. Walau hanya dapat mengerti melalui subtitle, jika filmnya bisa membuat kita “hanyut” dan kita menontonnya dengan konsentrasi penuh, emosi di dalam tubuh kita pun bisa tetap bergejolak sesuai dengan emosi yang ingin disampaikan melalui film. Namun jika filmnya tidak memiliki kekuatan “menghanyutkan” itu, walau kita mengerti dialognya, belum tentu kita bisa merasakan emosinya. Bagi gue, Al-Qur’an – yang adalah mukjizat Nabi Muhammad SAW, sangat punya kekuatan “menghanyutkan” itu – kekuatan yang bisa membuat gue bisa menangis walau gue tidak mengerti artinya jika gue membacanya dengan khusyuk, mengosongkan pikiran, dan hanya memfokuskan diri kepada Allah SWT.
Mungkin Pelajar-nya bisa bertanya lagi kepada Pengajar mengenai “menangis” itu, karena bisa saja maksud dari sang Pengajar berbeda. Tapi ini ide bagus. Yuk baca terjemahan Al-Qur’an setiap habis dibaca. :)
PS: Selama gue belajar Bahasa Arab – 3 tahun, ketika gue baca Al-Qur’an, gue tetap belum mengerti artinya seperti ketika gue membaca buku berbahasa Inggris.
PSS: Solusi Tambahan – menghadiri pengkajian Al-Qur’an, jadi tidak hanya tau arti tapi juga tau maksud mendalam dari ayat tersebut. Biar sekalian :D
learn arabic eh???
Betul mas Jourdan! Belajar dari dikau yang sudah berpengalaman boleh juga. :P
sukses belajar arabicnya brotha! setuju sama saudari Alanda. baca artinya aja ga cukup. Yuk ikut kajian Al-Qur’an. hari genee gak ngaji gak trendi :P. hehe
saya sudah sdang coba mengikuti pembelajaran bhs arab qur’ani, mengalami banyak kesulitan, apa ada milis tempat untuk diskusi belajar bahasa arab qur’ani?